Wednesday, March 08, 2006

MAZHAB BANDUNG: Menggilas Sebuah Aliran

“Penduduk dunia sekarang ini amat biasa bergaul dengan gambar yang bagaikan santir dari dunia nyata. Dan teknologi terus saja ingin menampilkan gambar yang makin menyantir, makin mewimba”.
Soedjoko,1992
(santir = segala hal yang tampak dicermin).


Ada pelbagai sudut pandang dalam memahami berkembangnya suatu mazhab, pertama, mereka yang melihatnya sabagai satu fenomena historis dengan mengamati kronologi pemikiran dan perubahannya; kedua, adalah mereka yang mengamati adanya proses meng-ideologi dalam setiap diri. Mantapnya sebuah mazhab, adalah jika didiskusikan secara terus menerus dan diterapkan dalam wacana intelektual secara terus menerus. Mantapnya sebuah mazhab, juga didukung oleh perilaku radikal penggagas utama, para pengikut dan murid dalam perioda waktu yang lama.

Untuk mengamati adanya kelangsungan Mazhab Bandung, penulis memilih jalur kedua, karena jalur ini jarang ditempuh atau “enggan” ditempuh. Disamping juga, selama ini belum ada yang berhasil menangkap fenomena ini sebagai sesuatu yang bermakna. Dalam kondisi itulah penulis mencoba menangkapnya sebagai sebuah proses “meng-ada” dalam diri yang selama ini menjadi “persinggahan” aneka gagas itu selama kurang lebih 30 tahun. Aspek subyektif dan ketidakikhlasan kerap menyertai, karena timbulnya konflik batin, antara keinginan untuk membangun suatu penyadaran alternatif, terutama ketika Mazhab Bandung telah mengalami proses pelapukan dan retak di sana-sini, serta mendudukkannya sebagai bagian sebuah wacana kebudayaan yang bermakna dan juga bertanggungjawab.

Langgengnya pendidikan kesenirupaan di ITB lebih dari 50 tahun, merupakan bukti-bukti yang tak dapat dipungkiri bahwa Mazhab Bandung itu ada dan mantap sebagai sebuah ideologi berkarya, maupun proses pendidikan. Kemudian sebarannya yang meluas dalam wacana kesenirupaan nasional adalah wujud-wujud implementatif mazhab tersebut secara fanatik dianut dan dikembangkan. Demikian pula model pendidikan kesenirupaan modern yang menekankan kepada konsep, intelektualitas, metodologi dan aspek-aspek keformalan adalah wujud lain bahwa spirit Mazhab Bandung yang ‘dirawat’ dan dijabarkan oleh para pelakunya secara bergenerasi.

Memang sebagian diantaranya berupaya mengingkari, namun tak kuasa mempraktekkan dan mengakui keberadaannya. Kita tentu saja tak dapat mungkir, bahwa model pendidikan kesenirupaan yang berlangsung di Indonesia hingga saat ini adalah ‘jasa’ para pemikir Mazhab Bandung generasi pertama dan kedua. Tatkala aspek-aspek modernitas, kebebasan berpikir, estetik akademis dan rasionalitas telah menjadi bagian dari wacana kesenirupaan Indonesia.

Ada saatnya Mazhab Bandung mengalami ujian yang berat, ketika dituduh sebagai ‘agen Barat’ di tahun 60-an, dan pada saat itu wacana kesenirupaan nasional sedang berklibat kepada otodidakisma dan Realisme Sosialis. Namun ujian berat tersebut dapat dilampaui dengan kearifan yang tiada tara. Kemudian ujian berat kedua muncul ketika para seniman membuka program studi desain pada awal tahun 70-an yang sementara itu dinilai sebagai ‘seni rendah’ dan terlalu rasionalistis. Pada zamannya, seni terapan semacam itu memiliki kecenderungan ‘dimusuhi’ oleh para kritikus seni dan para seniman otodidak. Bahkan hingga sekarang. ‘desain’ belum menjadi bagian penting dalam wacana historis kesenirupaan di Indonesia.

Beberapa buku yang ada, seperti Art in Indonesia karangan Claire Holt, Visual Art yang disusun oleh Hildawati , Nusa Jawa : Silang Budaya karangan Denys Lombard, 35 Tahun Pendidikan Senirupa Indonesia disusun oleh But Mukhtar, Mengenang Perintis Senirupa Indonesia oleh IA-ITB, 50 Tahun Senirupa Indonesia disusun oleh Biranul Anas, Dua Senirupa kumpulan tulisan Sanento Yuliman, dan sejumlah katalog dan makalah lepas merupakan rujukan bahwa “Mazhab Bandung” itu ada, meskipun tidak dinyatakan secara tegas. Tetapi bagi penulis, yang hadir, sebagai penyaksi, pegaul dan terkena langsung imbasnya selama kurang lebih tiga puluh tahun merasakan proses “mengideologi” yang kuat dalam banyak bidang, terutama estetika dan sistematika berpikir.

Dalam paparan ini, penulis juga mencoba untuk mengklasifikasikan beberapa fenomena yang tercerai-berai itu sebagai pandangan pribadi. Selain itu, “ciri-ciri” yang begitu kuat yang telah terbangun selama kurang lebih setengah abad, tidak bisa dihindari untuk “menular” antar generasi, baik melalui proses pendidikan maupun berkarya. Hal inipun telah disadari cukup lama, bahwa mereka yang ingin belajar ke perguruan tinggi senirupa ITB, bukan hanya sekadar ingin memperoleh gelar kesarjanaan saja, tetapi juga menginginkan masuk ke dalam atmosfir budaya “Mazhab Bandung” yang selama ini dirasakan sebagai salah satu tonggak penting dunia kesenirupaan Indonesia.


A. Generasi Pembuka (1920-1940an)

Terlepas kebencian apapun yang kita miliki terhadap proses kolonialisasi Belanda di Indonesia, disela-sela kebudayaan Barat yang dibawanya, secara jujur harus diakui bahwa diantara kebudayaan kebudayaan asing itu telah menciptakan satu proses penyadaran terhadap munculnya kehidupan modern di tanah air. Kehidupan modern bukan berarti sebagai suatu proses budaya yang berlapis-lapis dengan akar filsafat yang kokoh seperti yang terjadi di Eropa sejak abad pertengahan. Kolonialisme yang tengah berlangsung di bumi Indonesia itu, adalah suatu proses budaya lain yang “memaksa” kaum pribumi untuk menerima program-program modernisasi. Termasuk di dalamnya adalah penyelenggaraan pendidikan tinggi, industrialisasi dan pembangunan fisik. Hal itu diakukan pula oleh para seniman, arsitek dan desainer Belanda yang bekerja dan membangun karyanya di Bandung atas biaya pemerintah kolonial Belanda. Bandung dan kota lainnya di Indonesia adalah sebuah “replika” bagaimana sebuah kebudayaan modern hadir di bumi Parahiangan ini.

Kita mengenal Pont, Lemei, Kartsen, Schumacher, Citroen, dan kawan-kawan yang bekerja membangun perkotaan di Bandung dengan pelbagai wujud karya arsitekturalnya, diantaranya yang paling monumental adalah Gedung Kampus ITB, Vila Isola, Hotel Homan, Hotel Preanger dan Gedung Sate. Disamping semangat Nasional dan terbentuknya jiwa kemerdekaan yang hangat dalam diri setiap insan Indonesia cita-cita kemandirian dalam segala bidangpun dibangun. Kondisi itu merupakan bagian yang tidak terlepaskan dalam pembentukan penyadaran pada kaum intelektual pribumi di kota Bandung. Demikian pula dengan pengaruh Soekarno yang menjadi mahasiswa THS (kini ITB)-seorang orator Nasionalis-Modern, merupakan “replika” bagaimana Modernisme yang berkembang di Bandung menjadi bagian dari proses penyadaran terbentuknya benih-benih demokrasi dalam dunia intelektual.

Di Bandung telah hidup tradisi akademis dalam dunia senirupa dan arsitektur, beriringan dengan dibangunnya pendidikan tinggi teknik tertua pada tahun 1929, merupakan proses pembangunan tatanan intelektual yang bersifat universal. Sudah barang tentu, mondar-mandirnya gurubesar dari Eropa dan buku-buku asing membentuk atmosfir “internasional” perguruan tinggi ini, secara langsung atau tidak langsung juga terkondisikan menjadi pelintasan pelbagai cabang ilmu pengetahuan teknik dan seni dunia. Fenomena budaya semacam inilah yang kemudian mematangkan suatu landasan berpikir ala orang Bandung yang secara evolutif terbentuk di kemudian hari.

Awalnya, memang hanya segelintir priyayi yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi modern di ITB. Sebagian besar penduduk pribumi, hanya menjadi penyaksi adanya satu aktifitas pendidikan modern. Antara kecemburuan dan ketakmengertian bercampur aduk. Tapi Bandung pada saat itu, telah menjadi kota peristirahatan modern dengan penataan yang membuat kaum pribumi “bertanya-tanya” tentang peradaban manusia modern. Di kota ini, terdapat istana gubernur, ada alun-alun, ada kebun binatang, ada Taman Ganesha, ada ketertiban, berseliweran mobil dan penataan rumah yang bagus-bagus. Panorama ini, lambat laun mengendap pada kaum priyayi berkulit cokelat, bahwa untuk menjadi manusia yang terhormat dan sejajar dengan para penjajah haruslah menjadi bagian dari warga kampus.

Gejala awal yang melandasi sebuah Mazhab pada generasi ini diantaranya adalah

(1) Diadopsinya Rasionalisme Eropa sebagai bagian dari gerakan Modernisme dunia dalam berkarya, terutama arsitektur yang semangat Fungsionalisme dan Logika perancangan modern.
(2) Mengadopsi gaya besar dunia, diantaranya, “Neo Klasik”, “Bauhaus”, “Art Deco”, “Bauhaus”, De Stijl”, “International Style”, dlsb; yang kemudian memperkokoh kehadiran Gaya Kolonial di wilayah jajahan;
(3) Berkembangnya tradisi akademik formal dalam kegiatan kesenirupaan yang sebelumnya merupakan kegiatan yang bersifat “sanggar” dan sporadis;
(4) Munculnya kesadaran pentingnya perpaduan antara kebudayaan lokal (etnik) dengan kebudayaan Barat, seperti dilakukan oleh Pont dalam memadukan pelbagai gaya arsitekturnya.


B.Generasi Transisi (tahun 1940-50-an)

Tokoh-tokoh intelektual Bandung seperti Oto Iskandardinata, Dewi Sartika, dlsb, merupakan figur-figur yang menjadi junjunan warga terutama patriotisme-intelektualnya. Sejalan dengan hal itu, di Balai Pendidikan Guru Gambar -THS ( ITB) yang masih dalam masa transisi pengajaran dari orang-orang Belanda ke kaum pribumi, kita mengenal figur Simon Admiral, J Hopman, Reis Mulder mulai memperkenalkan teknik menggambar modern yang mengkaji teori-teori perspektif dan filsafat estetika Barat. Juga Jack Zeylemaker dan Piet Pijper yang memperkenalkan desain dan kerajinan, Hans Frans untuk gambar anatomi, serta Bernett Kempers untuk kuliah Sejarah Kesenian Timur dan Beerling untuk kuliah filsafat. Di kampus ITB, Soemardja yang awalnya masih menjadi pegawai Departemen P & K dianggap sebagai model sosok “pelintasan” kebudayaan dunia yang diendapkan melalui pelbagai gagas kebudayaan yang ia utarakan. Awalnya Soemardja melanglangbuana ke pelbagai negara di Eropa dan menyerap pelbagai fenomen budaya barat yang telah menjadi universal itu untuk dituangkan dalam aneka gagasan kreatif di negerinya. Meskipun terdapat suatu proses transisi antara proses penyadaran kebudayaan universal dari generasi sebelumnya yang banyak didominasi oleh orang-orang Belanda kepada orang Indonesia, namun tidak mengurangi proses percepatan dalam menyerap kebudayaan itu. Hal tersebut karena atmosfir politik nasional dan kemahiran dalam penguasaan beberapa bahasa asing telah lama dimiliki.

Soemardja, disamping sebagai seniman, pemikir budaya, juga adalah seorang birokrat dalam dunia pendidikan yang dengan langsung dapat memberi kontribusi terhadap arah pendidikan nasional. Figur Soemardja (seniman, pendidik dan birokrat) inilah yang kemudian membangun kekuatan dasar nantinya, bahwa Mazhab Bandung hadir menjadi bagian penting dalam percaturan kebudayaan. Dalam masa ini, mulai terjadi adaptasi terhadap Modernisme yang mulai mengalami proses persenyawaan terhadap kebudayaan Indonesia sendiri. Pelaku intelektual yang ada di Bandung, khususnya para seniman mulai menerima “warisan’ kebudayaan dunia ini melalui kurikulum pendidikan seni yang lebih akademis. Kondisi inilah yang kemudian oleh para kritikus senirupa kerap disebut sebagai dimulainya “tradisi akademis” yang dikembangkan oleh orang Indonesia sendiri dalam berkesenian.

Trisno Soemardjo secara terbuka mengemukakan bahwa Bandung telah menjadi “laboratorium Barat” tatkala sebagian besar masyarakat dan budayawan sedang benci-bencinya terhadap Imperialisme Barat, suatu citra yang sedang dibangun oleh Soekarno sebagai suatu propaganda politik pada waktu itu. Jargon-jargon kebencian kepada Imperialisme itu disalah tafsirkan oleh sekelompok seniman untuk memerangi budaya Barat yang telah mengalami proses mutasi menjadi budaya dunia.

Serangan Lekra dan seniman penganut Realisme Kerakyatan, tidak mengubah ideologi para seniman Bandung yang terakumulasi kegiatannya di ITB. Di dunia intelektual pendidikan tinggi telah lama mengakui bahwa ada nilai-nilai estetik yang telah mendunia, yaitu yang berkaitan dengan teori geometri, teori perspektif, teori proporsi, teori warna, teori komposisi, teori bentuk dan prinsip-prinsip keseimbangan. Bertitik tolak dari nilai-nilai estetik universal inilah kekuatan Bandung dibangun.

Ciri-ciri Mazhab Bandung pada generasi berikutnya yang mulai diserap oleh kalangan pribumi adalah
(1) Melanjutkan tradisi akademis bergelar untuk seniman yang terdidik di perguruan tinggi;
(2) Tidak fanatik pada satu gaya senilukis dunia saja, namun dapat mengadopsi beberapa gaya, dan tidak menutup kemungkinan mengembangkan gaya “individual”;
(3) Seorang seniman harus memiliki wawasan sejarah yang kuat karena ia adalah makhluk kreatif yang menyerap fenomena kebudayaan dunia.


C.Generasi Perintisan ( tahun 1950-1966)

Kreatifitas dari Bandung memang merupakan perpanjangan tangan dari kebudayaan dunia, bukan sekedar “replika” kebudayaan yang dicangkokkan oleh para pengajar Belanda. Hal itu sejalan dengan ilmu pengetahuan alam yang mulai dikenalkan kepada masyarakat Indonesia melalui pendidikan matematika, fisika, kimia dan biologi yang memiliki kaidah-kaidah empirisma universal. Ketika Rasionalisme menjadi bagian kebudayaan dunia yang penting serta terbangunnya peradaban melalui kekuatan teknologi, maka pada waktu itu seni mengalami proses metamorfosa yang bersifat substansial. Akhirnya lahirlah Modernisme dengan sub-sub ideologinya beberapa dekade setelahnya. Kemudian secara bertahap seiring dengan program modernisasi membangun jaringan ke pelbagai negara, termasuk Indonesia.

Modernisme yang lahir dari suatu konsekuensi logis masyarakat rasional, juga menciptakan seni-seni eksperimental, dan juga yang tak kalah sebagai bentuk perlawanan budaya adalah proses upaya penentangannya yang tak pernah surut. Fenomena ini juga tampak di Bandung yang mencoba mengadopsi Modernisme Barat itu untuk dikembangkan dengan tema-tema khas masyarakat Indonesia. Modernisme dalam bentuk gagas maupun perwujudan estetik, menjadi fondasi primer lahirnya sebuah ideologi dalam berkesenian selama bertahun-tahun dengan pengikut yang cukup banyak.

Jika Soemardja adalah sosok yang membuka jalan, serta membuka kebudayaan dunia itu masuk ke ITB, maka Sadali, But Mukhtar, Edie K, Angkama, Apin, Popo, Barli dan beberapa rekan segenerasi, merupakan pembangun Mazhab Bandung menjadi sebuah ideologi kebenaran estetika modern di Indonesia. Universalisme dalam mazhab berkesenian yang berkembang di Bandung itu secara nasional dipertanyakan eksistensinya karena dinilai kurang peduli dalam mengekspresikan nasib rakyat bawah. Jika kita simak karya-karya yang dihasilkan yang banyak pula memaparkan fenomena pasar, fenomena pengemis, fenomena pejuang, fenomena kejelataan, dlsb; pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kritikus seni pada waktu itu kurang proporsional selain juga adanya kecemburuan terhadap seniman ITB yang tidak tersentuh oleh misi politis Lekra. Meskipun banyak diantaranya yang mengadakan eksperimen kreatif dengan pelbagai macam gaya, hal itu sebenarnya sebagai konsekuensi logis diselenggarakannya pendidikan tinggi senirupa. Pihak-pihak yang kemudian mempertentangkan gaya Internasional dengan gaya lokal, antara seni akademis dengan seni kerakyatan, antara Timur dan Barat, antara Nasionalisme dengan Sosialisme, dan seterusnya. Kesemuanya merupakan suatu proses pendewasaan eksistensi dalam olah pikir.

Sebagai suatu keyakinan kebenaran pemikiran, para seniman Bandung - khususnya seniman yang berkiprah di ITB, tetap melakukan pelbagai eksperimen melalui bahasa-bahasa estetika yang universal. Ideologi terbuka yang selama ini menjadi warna utama tetap dipegang untuk tidak segera terseret ke dalam percaturan politik kebudayaan yang cenderung didominasi kelompok Sosialis Kerakyatan Radikal.

Namun demikian, pada periode ini, kebijakan pendidikan kesenirupaan modern sebagai wahana kaderisasi mulai mengalami proses pemantapan dengan diakuinya pendidikan ini setara dengan dengan pendidikan kesarjanaan yang lain. Bentuk ungkapan estetika yang universal kemudian diformalkan menjadi wujud kurikulum dan pengajaran yang sistematis. Disamping mengajar, para dosen senirupa juga berkarya dan bereksperimen. Melalui beberapa perjalanan kreatif kerap bertemu dengan fenomena visual yang tak terduga. Akhir tahun 50-an muncullah gaya Kubistik- Dekoratif, nama ini sebenarnya tak pernah ada dalam percaturan senirupa Indonesia, tetapi wujud-wujud karya yang dihasilkan Sadali, But Mukhtar, Apin ataupun Popo, secara rupa mencirikan hal itu. Obyeknya adalah fenomena rakyat kecil di lorong, di gang, di pasar, tukang becak, pengais sampah, wanita penjaja, dsb; namun ditampilkan dalam ujud komposisi warna yang berkotak-kotak. Maksudnya barangkali bukan meniru gaya Kubisme, tetapi memang pencapaian kreatifnya saja yang berujud kotak warna bersekat-sekat. Dilain pihak, Angkama, Edi, Barli, Kabul tetap berkreasi dengan gaya Realisme yang merekam kehidupan rakyat kecil dan kehidupan masyarakat pada umumnya.

Ketika politik telah menjadi panglima, dan Sosialisme telah merasuk pada sebagian seniman, serta suasana kehidupan sosial semakin tak menentu, maka segala sesuatu yang berbau Barat dan proses internasionalisasi akan selalu dilihat sebagai proses menentang situasi. Apalagi, pada awal tahun 60-an Indonesia dalam kondisi berseteru dengan negara-negara Barat dan pidato-pidato Bung Karno cenderung menyerang ideologi dari Barat, maka lengkaplah kebencian itu menjadi sebuah sikap “Anti-Barat” dalam segala hal.

Dengan terbentuknya lembaga pendidikan tinggi senirupa di ITB sejak dari Balai Guru Gambar, seni kemudian menjadi suatu yang akademis.Pengakademian seni menjadi suatu pendidikan formal inilah yang kurang disukai oleh para pelukis otodidak yang berkembang di sanggar-sanggar. Jarak yang semakin menjauh, itu dicium oleh kubu sosialis yang dibina Lekra untuk menentang kehadiran Modernisme di Indonesia. Apa yang dikembangkan oleh para seniman Bandung yang mengambil idiom seni dunia, dilihatnya sebagai senirupa formalistis dan senirupa abstrak. Tentu saja bagi seniman otodidak yang telah keranjingan terhadap ideologi sosial, eksperimen eksperimen kreatif dalam kerangka kajian akademis dilihat sebagai wacana budaya yang tak bermakna. Hal itu seperti dilihat oleh pelukis Misbach Thamrin yang tertuang pada Harian Rakyat 16 Maret 1963, dan pendapat itu merupakan akumulasi dari diskusi-diskusi yang meluas antara seniman dan sastrawan di pelbagai kota.

Namun secara jujur, penulis, melihat fenomena di Bandung itu sebagai suatu proses untuk meletakkan dasar terhadap dibangunnya wacana budaya yang lebih besar dikemudian hari, yaitu menjadi sebuah fondasi intelektual. Gaya-gaya yang diadopsi dari kebudayaan Eropa itu, tidak semata menjadi ideologi yang dipaksakan, namun sebagai suatu proses pembelajaran pendidikan senirupa modern.

Ciri-ciri gaya dan teknik Mazhab Bandung generasi perintisan yang mumcul kurang lebih dari satu dekade. diantaranya adalah

(1) Abstrak Geometris; yang digali dari kaidah-kaidah estetik dasar, seperti unsur geometri ;
(2) Abstrak Ekspresionis yang mengekspresikan gaya abstrak melalui torehan, tekstur,plototan cat, permainan palet, dlsb;
(3) Abstrak Non-Figuratif yang dikembangkan dari unsur bentukan alam, benda, kaligrafi atau unsur geometris;
(4) Abstrak Formalis dengan usaha mengeksploitasi bentuk organik dan geometris habis-habisan, terutama dalam seni patung dan seni keramik
(5) Impresionistis, terutama mengeksploitasi torso, nudis dan bersifat antroposentris;
(6) Simplisiti Perfeksionis dalam berkarya, mulai dari penerapan kaidah estetika, pemilihan bahan, kesempurnaan pigura hingga penyelenggaraan pameran;
(7) Realisme Kerakyatan terutama menampilkan suasana pasar, lorong dan kemiskinan,
(8) Dekoratif Kubistis yang menampilkan efek kotak pada pelbagai obyek, baik fenomena nelayan, pasar, tukang becak ataupun kehidupan sehari-hari.


D.Generasi Pengembang (1965-1970an)


Generasi berikutnya adalah terjadinya suatu kondisi terbentuknya almosfir intelektualitas di kota Bandung, baik dalam bidang senirupa, profesi desain, dunia arsitektur, pemikiran seni, pendidikan seni, gagasan kebudayaan, dan menyebar kepada bidang-bidang lainnya. Generasi pengembang dalam bidang kesenirupaan sebagai benang merah kesinambungan falsafah kesenirupaan universal diantaranya AD Pirous, Imam Buchori, Yusuf Affendi, Kaboel Suadi, Srihadi Soedarsono, G.Sidharta, Soedjoko, Widagdo, Sanento, Primadi, Rita W, Adjat Sakri, Wiyoso, dan lain-lainnya. Kemudian generasi selanjutnya diikuti oleh Umi Dachlan, Abay Subarna, Sunaryo, Surya Pernawa, Hariadi, Sutanto, dan lain-lainnya, mengalami proses transformasi lanjut adanya kesinambungan budaya dari generasi sebelumnya.

Pengaruh estetik universal yang dipelajari dari pelbagai negara semasa menempuh pendidikan pasca sarjana, baik di negara-negara Eropa maupun Amerika, kemudian dicangkokkan ke dalam pendidikan kesenian profesional. Hal itu disadari sebagai usaha untuk menjadikan senirupa Indonesia menjadi bagian penting perkembangan seni dunia. Namun demikian, warna lokal yang telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia selama berabad-abad, tetap menjadi sumber inspirasi yang penting.

Para mahasiswa yang belajar di ITB, secara bertahap mengenal Sejarah Kebudayaan Dunia, Sejarah Senirupa Asia, Senirupa Islam, Teori Senirupa Modern, serta cabang cabang ilmu kesenirupaan, dan pelbagai hal yang sebelumnya diperoleh secara terbatas di dalam negeri. Namun demikian, tidak semua yang diperoleh dari pendidikan lanjut itu diterapkan dalam praktik, melainkan mengalami proses pencangkokkan dan proses “Indonesiasi” yang terus menerus. Kita kemudian bisa mengenal “diri” dimana posisi seniman Indonesia dalam peta kesenian dunia, serta dimana posisi kebudayaan Indonesia di tengah-tengah percaturan Asia.

Tradisi Bauhaus yang menerapkan konsep praktikal dan teoritikal dalam pendidikan desain, berlangsung secara sinergis dengan pendidikan senirupa dalam proses pembelajaran, secara bertahap diterapkan dalam proses pengajaran. Mazhab-mazhab estetika dunia yang kuat, seperti “International Style”, “Good Design”, “Simplicity”, “Fungsionalisme”, “Formalisme”, “Etnisitity”, “Kejujuran Material” dlsb; dikawinkan dan diadopsi sehingga melahirkan wajah estetika baru yang kemudian membangun sebuah kekuatan gaya estetika khas ITB. Hal itu ditunjukkan oleh pelbagai karya pada pameran desain mebel di Taman Ismail Mardjuki pada tahun 1970, Pameran 10 Seniman Bandung di TIM, Ekspo Osaka 70, Interior Balai Sidang Senayan, dan pelbagai karya yang tersebar luas di pelosok tanah air, baik karya staf pengajar, mahasiswa maupun alumninya.

Dalam dunia senilukis, berkembang pula spirit keagamaan, khususnya Islam. Banyak pelukis dan bahkan pematung, mulai mengawinkan antara citra keagamaan, kaligrafi dan senirupa modern untuk berekspresi. Hal itu dapat dilihat pada perkembangan karya-karya Achmad Sadali, AD Pirous, Abay Subarna, dll. Sedangkan aspek mistis, juga berkembang sejalan dengan orientasi baru dunia senirupa ITB pada spiritualisma, seperti terlihat pada karya-karya T Sutanto, Hariadi Suadi, Setiawan, dll. Aspek etnik juga mengalami proses pendalaman melalui proses perwujudan kembali menjadi karya senirupa yang unik dan khas, seperti ‘Citra Irian’ yang dikembangkan oleh Sunaryo dan ‘Citra Jawa’ yang dikembangkan oleh G Sidharta.

Dalam dunia kritik seni, Sanento Yuliman adalah sosok yang amat sensitif terhadap wacana estetik dunia. Meskipun dalam dirinya terjadi pelintasan falsafah kaum Strukturalis, Sosialis dan Eksistensialis, Sanento mencoba mengangkat wacana Senilukis Indonesia dalam sebuah paparan yang runtut. Kupasan-kupasan yang bernada Strukturalis terlihat pada bedahan karya yang dingin tapi detil dan tajam, tanpa melihat latar si seniman ataupun ideologi sebuah karya rupa. Sedangkan pemikiran yang bernada sosialis terpapar dalam pembicaraan sehari-hari dan beberapa tulisannya mengenai pahlawan, rakyat kecil, senirupa bawah ataupun seni pinggiran. Pola pikir Sanento semacam itu lambat laun mempengaruhi wacana berekspresi di Bandung yang mulai memperhatikan “tema’ sosial dan membangun semangat “kritis” terhadap keadaan. Kondisi itu semacam itu terpicu pula oleh atmosfir politik nasional yang mulai “memanas” akibat penyimpangan-penyimpangan pemerintahan Orde Baru pada awal tahun 70-an.

Ciri-ciri dan teknik kesenirupaan Mazhab Bandung generasi pengembangan, merupakan upaya penganekaan gaya generasi pengembangan, dan bahkan beberapa pelakunya sebenarnya sama dan gaya sebelumnya juga masih hidup dalam wujud yang lebih kaya, ciri-ciri tersebut diantaranya :

(1) Tekstur Kaligrafis, mulai melibatkan aspek kaligrafi timbul dalam lukisan, terutama kaligrafi Islam ;
(2) Keanekaan Bahan, digali pelbagai kemungkinan penggunaan bahan baru, mulai dari gips, akrilik; hingga warna emas.
(3) Lukisan Tiga Dimensional, lukisan tidak lagi berupa karya 2 dimensi, tetapi juga termasuk mencubit kanvas, menjahit, membuat cembung bahkan merobek kanvas;
(4) Kolase, Lelehan dan Rekahan, efek-efek 3 dimensional dalam lukisan, bermain bentuk dalam patung dan keramik digali dan dikembangkan kemungkinan-kemungkinannya;
(5) Bersifat Strukturalis, tampak dalam mengkaji dan membahas karya seni dan pembentukan istilah-istilah kebahasaan seni secara struktural, munculnya kegandrungan terhadap kajian semiotis dan semantika.
(6) Tampil Cantik dan Elegan, terutama dalam penyelesaian akhir dan kesan tampilan pada setiap karya seni yang dihasilkan, baik cara memberi pigura, memilih merk cat, hingga pembukaan pameran;
(7) Multi Media terutama mulai akrab dengan penggunaan teknologi pertelevisian terbatas (TVST), penggunaan video rekam dan kamera;
(8) Simbolistis, Mistis dan Mitologis, terutama penggalian unsur mistik daerah dan kebudayaan etnik beberapa suku yang memiliki bahasa rupa unik, yang paling menonjol adalah penggunaan “Gunungan” , “Makhluk Horor” dan “Pohon Hayat”, “Unsur Rajah”, ‘Bahasa Jimat’, dsb;
(9) Spirit Bauhaus; serba rasional, berkonsep, penerapan metodologi, mengupayakan terampil tinggi, prinsip-prinsip tersebut banyak dikaji dalam bidang desain interior dan produk.


E.Generasi Seni Kritis (1973-1980an)

Falsafah universalitas dalam berekspresi yang menjadi ciri utama Mazhab Bandung, kemudian mengalami kritik ‘kedua’ yang kedua dari dalam sendiri, sejak zaman keemasan Lekra pada awal tahun 60-an yang anti Modernisme. Kenyataan ini, karena eksklusifitas Mazhab Bandung yang telah menjadi seni elitis dan kurang membumi. Pernyataan kritis itu justru dilakukan oleh para murid yang selama ini menganut tradisi akademis yang mantap seperti Sanento Yuliman dan Jim Supangkat, serta sebagian lagi masyarakat penggagas seni alternatif dan seni kontemporer yang memungkinkan munculnya teknik-teknik baru dalam berkreasi.

Seni Pop di majalah Aktuil (majalah musik yang amat populer tahun 70-an) yang diasuh oleh Sanento dan Jim Supangkat, merupakan wahana para perupa muda untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya. Sejalan dengan itu dalam dunia sastra, juga terjadi situasi yang sama, sehingga memicu lahirnya kelompok Puisi Mbeling yang dimotori oleh Remy Silado, Abdul Hadi WM, Yudistira, Slamet Sukirnanto, dll; yang berpuncak pada Pengadilan Puisi di Bandung. Ketika itu, iklim keberpikiran kaum muda mengalami suasana kritis terhadap situasi politik nasional yang kemudian memicu meledaknya peristiwa Malari pada tahun 1974 di Jakarta. Pada saat itu, terdapat pula pra-kondisi hubungan kurang harmonis antara “generasi tua” dan “generasi muda” sehingga timbul‘perang dingin”, yang kemudian meledak ketika terjadi penjurian lomba senilukis Indonesia di ASRI -Yogyakarta (Desember Hitam).

Generasi kritis ini, kemudian membangun pemikiran alternatif yang kemudian dikenal sebagai Gerakan Senirupa Baru Indonesia. Para pelaku dan pembela gerakan ini diantaranya : Jim Supangkat, Sanento Yuliman, Priyanto, Nyoman Nuarta, Prinka, Pandu Sudewo, Hardi, Wagiono, Murni Adhi, dan lain-lainnya. Gerakan ini kemudian semakin mendapat simpati ke pelbagai kota, baik Jogyakarta maupun Jakarta tempat berpusatnya para seniman kritis.

Berkreasi, berkarya ataupun menggagas, tuntutannya bukan lagi sebagai bagian dari proses pemagangan pada seniman besar yang kemudian dikenal sebagai cantrikisme, namun para kaum muda ini menuntut kebebasan yang lebih. Dalam proses pendidikan kesenian, para mahasiswa menuntut kebebasan menentukan material, ide, media maupun wahana tempat memamerkan karya. Mazhab Bandung yang telah mengalami proses kemapanan sejak tahun 60-an, pada tahun 75-an seolah mendapat suntikan “pengaget”. Kebudayaan di Bandung mulai menggeliat dengan diadakannya Pasar Seni, Pameran Senirupa Baru, Pementasan Teater Alternatif, Lomba Motor Unik, Pementasan Musik Keras, dan pelbagai kegiatan kebudayaan lainnya secara berkala.

Dalam dunia desain grafis, lahirnya dunia brodkas dan pertelevisian, Bandung merupakan perintis, kegiatan itu melahirkan siaran televisi kabel yang dimanfaatkan untuk perkuliahan dan mengadakan eksperimen dalam media rekam, jauh sebelum maraknya televisi swasta di Indonesia. Demikian pula dalam dunia animasi dan pertunjukkan boneka, seniman Bandung merupakan pembuka dunia profesi itu berkembang,beberapa perintisnya antara lain Primadi Tabrani, Bachtiar, Yardini, Djoni Djauhari, dll.

Pentingnya sebuah organisasi profesi, telah pula menyadarkan masyarakat seniman dan desainer Bandung untuk membuat wadah kebersamaan. Dibentuklah Ikatan Akhli Desain Indonesia (IADI), kemudian Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Asosiasi Desain Produk Indonesia (ADPI), Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) dan pelbagai organisasi lainnya yang sejenis.

Dalam dunia sastra-senirupa, kelompok GAS-ITB pada tahun 1977 juga menawarkan satu alternatif dalam berkesenian, kelompok ini amat menyadari bahwa berekspresi tidak mungkin lagi hanya dibatasi karya rupa, tetapi dituntut “paripurna”, maka seni alternatif yang ditawarkan adalah “multi media” perpaduan antara puisi, senirupa, teater, teknologi, desain, mistik, filsafat dan komponen kebudayaan lain menjadi satu wahana berekspresi. Puisi bukan lagi sebatas pada kata, tetapi merupakan instalasi kebudayaan, jadilah karya instalasi. Fenomena berkarya ini kemudian dinamakan Puisibebas oleh Dr.Soedjoko. Para penggagas Puisibebas, diantaranya Khrisna Murti, Eddy Soetriono, Juniarso Ridwan, Chandra Johan, Maman Noor, Widihardjo, Gita Surawijaja, Eddy Noor, dan lain lain.

Awal tahun 70-an seni serat juga mulai dikembangkan sebagai media eskpresi, baik dengan teknik tenun, jahit maupun teknik lainnya. Hal itu sejalan dengan didirikannya Laboratorium Serat Bulu Domba sebagai bantuan dari pemerintah Belanda. Seni Serat berkembang tersendiri memperkaya wajah Mazhab Bandung, terutama setelah Yusuf Affendi, Biranul Anas, dll memamerkan karyanya di pelbagai kota.

Dilain pihak, ketika kesinambungan antar generasi tersumbat, akibat lemahnya kaderisasi dan fanatisma terhadap gaya modernisme. Hubungan kaum muda dan generasi tua,- guru dan murid, menjadi memanas, hingga puncaknya adalah terjadinya pembakaran patung Citra Irian karya Sunaryo oleh Semsar Siahaan. Situasi ini memicu berkembangnya tradisi kritis baru pada generasi selanjutnya. Fenomena ini, justru bukan melenyapkan Mazhab Bandung, namun memperkayanya menjadi satu tradisi berkreasi secara kritis. Mutu seni bukan lagi dilihat dari teknik kesenirupaan yang selama ini menjadi kunci tradisi akademis yang elitis (high-art), namun bagaimana seni hadir dalam suatu momentum atau kejadian yang dapat menggugah emosi masyarakat sekitarnya.

Beberapa pelaku Puisibebas yang masih aktif mencoba menawarkan kebudayaan ‘instalasi’ melalui pemajangan benda-benda industri ataupun merekayasa lingkungan yang kemudian disebutnya sebagai Puisi Lingkungan, Puisi Sibernetika, Puisi Teknologi dan sebagainya yang dipamerkan di beberapa kota, bahkan di kawasan ASEAN (pertemuan sastrawan ASEAN di Kualalumpur-Malaysia). Para penggagasnya antara lain, Krishna Murti, Gita Surawijaya, Eddy Soetriono, Widiardjo dan penulis sendiri pada tahun 1979-1980. Pada periode ini, sejalan dengan keberhasilan pemerintah Orde Baru memberlakukan konsep NKK-BKK di dalam kampus, kondisi pada saat itu dikampus ITB tempat berkembangnya Mazhab Bandung tercipta kondisi anomali dan kebekuan dalam proses kreasi.

Sejalan dengan itu pada tahun 80-an, adalah zaman keemasan Industri Pesawat Terbang Nusantara (kini PT.Dirgantara Indonesia) yang berdomisili di Bandung dan keberpihakan pemerintah kepada dunia industri ini begitu besar. Akibat situasi itu banyak karya senirupa yang berorientasi industri menjadi dominan, karena hasrat sejumlah seniman untuk mengakrabi teknologi. Penggunaan komponen mesin, fibre glass dan bahan-bahan sintetis telah menjadi bagian dalam berekspresi. Bahkan dalam pameran teknologi ITB pada tahun 1983 yang diselenggarakan di Jakarta, kontribusi dunia kesenirupaan dalam dunia teknologi itu tidaklah kecil. Disamping menampilkan produk-produk yang terbuat dari ferosemen (Arie Achmad, SB Irawan), perbaikan visual produk hingga merancang inkubator (Imam Buchori) ditampilkan sebagai wujud kepedulian dunia senirupa terhadap teknologi.

Pada periode yang sama, terjadi pembangunan hotel dan bangunan perkantoran di pelbagai kota besar Indonesia. Dalam kondisi tersebut, profesi desainer interior mengalami keemasan yang luar biasa, sejalan dengan terbitnya media populer mengenai profesi ini, yaitu majalah ASRI dan Griya. Meskipun gedung-gedung yang dibangun bernuansa gaya internasional, namun terdapat kecenderungan desain interiornya bernafas kebudayaan lokal. Pada masa ini, Widagdo, Solichin Gunawan, Achadiat Yudawinata, Sukria, Ma’Mun Mulia, dll merupakan pemberi nafas baru dalam dunia interior di Indonesia.Sedangkan dunia cetak, khususnya majalah berita dan surat kabar mengalami ‘pemasungan’ terbit oleh Departemen Penerangan RI.

Orientasi kebudayaan nasional yang mulai mengabur, memacu para seniman generasi awal mulai “merangkai” masa lalu, puncaknya adalah pada tahun 1983 diselenggarakan pameran besar 35 tahun Pendidikan Senirupa Indonesia di ITB dengan pelbagai hasil selama pejalanannya. Tujuannya positif agar benang merah perjalanan senirupa di Indonesia tidak terpenggal-penggal antar generasi serta menjadikan Bandung sebagai “Center of Excelence” dunia kesenirupaan Indonesia.


Ciri-ciri utama generasi kritis diantaranya :

(1) Demokratisasi Seni; hal itu terlihat dalam proses belajar-mengajar yang mengurangi aspek “cantrikisme” dosen dalam menanamkan mazhab estetik
(2) Multi Disiplin; menghargai dan timbulnya spirit bekerjasama dengan disiplin ilmu lain, terutama ilmu rekayasa dan ilmu sosial dalam berpikir dan pengkajian kesenirupaan;
(3) Terbuka terhadap aneka gaya kritis; menerima dengan tangan terbuka pelbagai gaya, baik gaya yang berasal dari masyarakat internasional, gaya pop maupun gaya seni tradisional;
(4) Atmosfir Inovasi; tantangan yang tak habis-habisnya menyebabkan pentingnya inovasi dalam berpikir maupun berkarya, terutama hadirnya aspek kebaruan dengan pelbagai wujud kesenirupaan.
(5) “Good Design”; semangat “good design” yang diadopsi dari Modernisme Eropa dalam pelbagai wujud desain, bahkan dalam gaya hidup para pengajar dan alumnus. Konsep simplisiti, kejujuran bahan dan efesiensi menjadi landasan dalam berpikir desain.
(6) Detilisma; semangat menyelesaikan semua karya senirupa dan desain hingga unsur yang sekecil-kecilnya dan tampil sesempurna mungkin.
(7) Senirupa kritis; tradisi Gerakan Senirupa Baru yang enggan melihat kemapanan, menciptakan jiwa kritis dalam mengungkapkan kreatifitas maupun pemikiran.
(8) Gandrung gaya Eropa dingin; munculnya spirit mendesain yang ke-fnlan-finlanan, atau gaya Skandinavia yang menggali warna, bentuk dan unsur plastisitas.
(9) Berpihak pada Industri; banyaknya karya desain yang berorientasi kepada industri, baik industri kecil maupun industri canggih.
(10) Gandrung jatidiri; hal itu ditunjukkan oleh para seniman yang mangadakan pameran restrospeksi dan penerbitan buku otobiografi edisi luks dengan biaya sendiri.
(11) Keranjingan mengutak-atik istilah, terutama istilah kesenirupaan modern yang dirujuk dari sumber bahasa Indonesia Baku, Jawa Kawi, Sansekerta, atau sumber nasional lainnya.
(12) Bangga dengan estetik tradisi. Berusaha untuk mengangkat keberhasilan sejarah nenek moyang dan senirupa tradisi.


F. Generasi Yang Bebas (1986-…..)


Cita-cita membangun Bandung sebagai “Center of Excellence” dunia senirupa Indonesia tetap berlangsung, terutama ketika ditunjuk sebagai kota tempat penyelenggaraan Pameran Internasional Senirupa Asia ke 7 pada bulan November 1992. Selain itu, kontribusi masyarakat seniman Bandung juga terlihat pada dominasi penyelenggaraan Festival Istiqlal, Pameran Senirupa Asia, Pameran Senirupa Gerakan Non-Blok, dan pelbagai peran yang mendunia secara rutin diselenggarakan untuk mengisi kegiatan kebudayaan Nasional.

Ketika generasi perintis mulai uzur, Mazhab Bandung pada generasi kritis mengalami proses pemantapan melalui pelbagai terobosan alternatif berekspresi seni kontemporer, diantaranya Gaya ‘Realisme Kritis’, ‘Realisme Kerakyatan’, Sensualitas, Seni Massa, Dekonstruksifis hingga Pop (Vulgaristik), ‘Multi Eklektik’ , ‘Green Design’, ‘Posmo’, dan pelbagai gaya yang diadopsi dari kebudayaan dunia kritis menjadi bagian kehidupan berekspresi. Di paruh kedua tahun 90-an, Para pengajar, seniman, para mahasiswa, di lingkungan pendidikan senirupa ITB mengalami kebebasan yang luar biasa dalam menentukan gaya. Mazhab Bandung yang berdomisili di lingkungan kampus ITB mengalami pergeseran ke arah Multi Kultur, Multi Disiplin dan Pluralitas secara radikal. Beberapa seniman dan perupa generasi kebebasan ini, diantaranya Tisna Sanjaya, Setiawan Sabana, Maman Noor, Hendrawan Riyanto, Asmudjo Irianto, dan lain lainnya. Dalam bidang desain sejak akhir tahun 90-an, juga muncul generasi baru yang lebih bebas dari pemikiran aliran Bandung ‘posstrukturalis’, diantaranya Yasraf Amir Piliang, Duddy Wiyancoko, Rizki Zaelani, dan lain-lain.

Fenomena senirupa Bandung pada dekade terakhir tahun 90-an, cenderung memilih media ekspresi neka media (instalasi), kemudian menjadi dominan sebagai wahana mengungkap gagasan. Dalam dunia perancangan, fenomena itu menjadi bagian dari tuntutan untuk berinovasi, spirit riset, kajian multidisiplin, penyadaran hukum, pemberdayaan masyarakat kecil, ramah lingkungan, alternatif krisis, dan pelbagai “adonan” dari kebudayaan dunia yang dikemas menjadi warna khusus. Fenomena Posmodern yang diadopsi dari wacana kebudayaan dunia, juga menjadi bagian pengungkapan gaya, meskipun tidak secara konsisten dirujuk.

Awalnya, paruh pertama tahun 90-an, ketika sedang hangat-hangatnya generasi muda kreatif bereksperimen dengan media instalasi dan mendapat respon yang cukup meluas di kalangan masyarakat senirupa Indonesia. Justru sebaliknya, pada generasi tua yang melihat peluang positif dengan maraknya konglomerasi dan tumbuhnya dunia perbankan. Generasi sebelumnya memperoleh kesempatan besar, bagaimana seni dapat menjadi komoditi terhormat dalam percaturan budaya nasional. Maka semakin rajinlah seniman-seniman terkenal menyelenggarakan pameran yang dibuka oleh pejabat tinggi. Harga lukisanpun menjadi tidak masuk akal, ketika Jeihan mengumumkan lukisannya dibeli seharga 800 juta rupiah sebuah. Beramai-ramailah para seniman pasang tarif tinggi untuk sejumlah karyanya, bahkan beberapa bank mengumumkan, bahwa karya senilukis dapat dijadikan agunan ataupun aset usaha. Sanento , segera mengumumkan terjadinya “Boom Senilukis Indonesia”.

Perkembangan berikutnya, karya senirupa yang selama ini luput dari perhatian, seolah telah menjadi bagian penting dalam kebudayaan Indonesia ( yang telah diumumkan oleh para pemikir masa depan akan menjadi negara “macan Asia” berikutnya setelah Taiwan, Korea, Singapura, Hongkong dan Thailand). Kondisi semacam ini, membuat kampus ITB lengang. Pada tahun 1989, para mahasiswa desain produk ITB yang tergabung dalam Kelompok INDDES, menggelar pameran besar Desain Produk Indonesia (PDPI) di gedung Serba Guna ITB yang berkeinginan menunjukkan pada dunia industri, bahwa banyak peranan senirupa dalam menunjang industrialisasi di Indonesia.

Sejak But Mukhtar “dipindah” dan menjabat rektor ISI-Jogyakarta, tidak tertutup kemungkinan Mazhab Bandung juga mengalami proses metamorfosa dalam bentuk lain di Yogyakarta, baik dalam bentuk kebijakan (konsorsium seni), atmosfir berkarya dan keterbukaan informasi. Hal itu terbukti dari semakin dinamisnya gaya-gaya seni modern hidup di kota ini, disamping tumbuhnya tradisi akademis yang kuat.

Dilain pihak, dalam dunia pendidikan kesenirupaan dibentuklah Konsorsium Seni (kini Komisi Disiplin Ilmu Seni) yang merumuskan kebijakan kurikulum inti seni secara nasional. Sebuah usaha untuk menyeragamkan, membakukan dan mensetarakan kurikulum seni di semua perguruan tinggi, tentunya dengan pelaksanaan yang berbeda-beda pula. Dominasi para pemikir ITB juga tentunya tidaklah kecil karena faktor senioritas dan pengalaman.

Dalam dunia pemikiran seni, sejak Sanento Yuliman yang secara tajam mengupas karya rupa dalam pemahaman filsafat Kaum Strukturalis, kemudian Primadi Tabrani mengupas karya rupa dari aspek gramatika dan tata bahasa rupa dalam pemahaman Semiotika. Generasi berikutnya yang cukup kuat adalah Yasraf Amir Piliang yang mengupas dunia rupa dari aspek budaya dalam pemahaman kaum Posstrukturalis. Ketiga tokoh ini merupakan figur yang memantapkan Mazhab Bandung generasi baru untuk berkembang dengan landasan filosofi yang mengakar.

Maraknya komik Jepang, tidak membuat para perupa Bandung undur langkah, tapi bagaimana mengimbanginya dengan karya kreatif yang berakar dari kebudayaan nasional. Terciptanya tokoh-tokoh ‘Kapten Bandung’, ‘Aladin Bandung’, ‘Abunawas Bandung’, ‘Saraz 008’, ataupun komik alternatif menjadi ajang kreatif para mahasiswa Bandung.

Disamping itu, kesadaran akan Hak Cipta sebagai imbas dari kebudayaan global, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berkarya. Sejak tahun 1982 keterlibatan dalam perumusan UU Hak Cipta, UU Perindustrian hingga perumusan UU Desain Industri Tahun 2000, para pemikir senirupa di Bandung tidak kecil dalam memberi kontribusi terciptanya dasar-dasar hukum tersebut. Bahkan sejak tahun 1998, ITB merupakan perguruan tinggi non-hukum yang berani membuka perkuliahan tentang HaKI, serta dibukanya Kantor Manajemen HaKI-ITB, lembaga yang menangani persoalan karya cipta ini.

Kaum muda sebagai pewaris Mazhab Bandung generasi berikutnya tampaknya semakin sadar bahwa akan berhadapan dengan tantangan yang semakin kompleks, terutama setelah era Reformasi dan memasuki era Globalisasi dunia. Ketika bangsa tercabik-cabik di semua sektor dan hancurnya tatanan kebudayaan akibat proses “pelapukan” yang semakin parah, maka generasi baru ini tidak akan cukup hanya menengok ke belakang pada keberhasilan (ataupun kegagalan) generasi sebelumnya, melainkan harus siap menghadapi “kompleksitas” kebudayaan yang semakin pluralistik, egaliter dan global.

Mazhab Bandung, bagaimanapun bentuknya secara historikal telah menjadi bagian eksistensi peradaban yang dibangun di sekitar Bandung, khususnya ITB. Spiritnya tidak hanya dalam dunia kesenirupaan saja, melainkan beriak-riak seperti putaran air yang semakin melebar. Kadang-kadang melemah, namun kemudian timbul lagi dalam wujud yang lebih kuat dan meluas. Kadang-kadang pula menciptakan riak-riak kebudayaan di luar dunia kesenirupaan, seperti pada dunia politik, komunikasi, sastra, musik, teknologi bahkan dunia keberpikiran.

Ciri-ciri Mazhab Bandung generasi Serba Bebas, diantaranya :

(1) Multi kultur; berkarya dan berpikir bertitik tolak dari pelintasan aneka budaya, baik budaya industrial, budaya ekonomi, budaya teknologis, budaya tradisi hingga budaya antar bangsa.
(2) Semangat menginternasional; hal itu ditunjukkan oleh seringnya pameran di pelbagai negara dan kerjasama dengan pelbagai universitas antar negara.
(3) Posmodernitas; marak diadopsinya trend gaya Memphis dan Posmodern dalam dunia visual serta ikutan bahasa rupa Posmodern, baik dalam karya mahasiswa maupun dosen.
(4) Gandrung komputer grafis; semakin canggihnya komputer grafis, secara bertahap fenomena meja gambar mulai beralih kepada media digital : menggambar dan berekspresi melalui komputer.
(5) Peduli lingkungan; terutama sejalan dengan spirit deklarasi Rio, Isu Eko Labeling dan “Green Product” menjadi trend para mahasiswa dan alumni dalam berkarya.
(6) Keranjingan budaya “Hiper Realitas”; mengadopsi pelbagai macam pemikiran barat, terutama Baudrillard dalam pelbagai kajian wacana kesenirupaan dan desain.
(7) Senirupa kritis; berekspresi dalam bentuk bahasa rupa yang bertitik tolak dari situasi anomali sosiologis masyarakat Indonesia dan kemuakan terhadap situasi politik nasional.
(8) Semiotika rupa; mengadopsi dari teori semiotik Pierce dan Umberto Eco dalam membedah aneka bahasa, teori ini banyak dirujuk dalam penelitian para mahasiswa pascasarjana senirupa dan desain.
(9) Seni Instalasi; teknik dan media berekspresi yang amat bebas dapat mennggunakan apa saja untuk mengungkapkan sesuatu;
(10) Wirausaha Seni; tumbuhnya semangat untuk berwirausaha (bukan menjadi karyawan atau pekerja) serta kemandirian dalam pelbagai kegiatan kesenirupaan dan desain.
(11) Hukum Sebagai Panglima; tumbuhnya spirit kepedulian terhadap undang-undang Hak Atas Kekayaan Intelektual dan mulai dibukanya perkuliahan hukum di lingkungan pendidikan senirupa.
(12) Mengilmiahkan Seni; semangat yang besar dan usaha yang tak pernah henti untuk mendekati fenomena kesenian dari sudut ilmiah agar dapat setara dengan keilmuan yang lain.


G. Penutup

Mazhab Bandung dalam kurun lebih setengah abad, hakikatnya telah “mengideologi” menjadi satu wacana falsafah kemajemukan yang terjadi pada proses pendidikan, proses kreasi maupun dialog keberpikiran dalam dunia kesenirupaan di Indonesia. Ciri-ciri yang berhasil direkam oleh penulis, mungkin merupakan sebagian saja dan tidak lengkap, namun pengaruhnya kepada kelangsungan kebudayaan nasional tetap terlihat. Hal ini terlepas dari para alumni senirupa ITB yang bekerja sebagai pengajar di pelbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan membawa “aspek-aspek” keilmuan dan ideologi Mazhab Bandung itu menyebar ke pelbagai wilayah. Hal yang paling kita sadari, tentunya disamping “Tradisi Akademis”, “ITB-isme” dan ikatan kebersamaan, Mazhab Bandung telah mengalami transmutasi generik ke dalam idiom-idiom yang lebih kecil. Idiom Sanentoisme, ke-Tisna-tisnaan, Yasrafian, dan sejenisnya.

Ketika dunia seni di luar ‘tradisi akademis’ telah tumbuh demikian besar, melalui berkembangnya ‘agen-agen’ kesenian, serta maraknya seniman-seniman berkaliber internasional berpameran dan bertransaksi, maka di lingkungan akademis terjadi kebalikannya. Pendidikan senirupa telah menjadi ‘usang’ dan ‘mengenas’ karena kekurangan dana, lemahnya kepedulian masyarakat dan lambat berkembang. Meskipun minat masyarakat terhadap pendidikan kesenirupaan senantiasa ada.

Tulisan ini, tentu saja oleh sebagian orang akan dihujat karena terkesan memuja dan menghidupkan Mazhab Bandung yang sementara itu oleh kalangan seniman yang lebih muda telah ‘dilupakan’. ‘Dendam’ kaum muda terhadap pemaksaan ikut dalam sebuah mazhab, baik melalui pendidikan ataupun berkarya selalu diikuti oleh sumpah serapah dan bersungut-sungut tak henti-hentinya. Ke-akuan yang tinggi itupun telah menjadi bagian yang terpisahkan dari tatanan mazhab ini. Oleh karena itu, terdapat upaya-upaya untuk melunturkan tradisi akademik, juga menghindar dari aspek-aspek modernitas yang selama ini melekat pada tradisi Mazhab Bandung. Pertanyaan segera timbul, apakah masih perlu pendidikan seni dilanjutkan?. Jika akhirnya memformat kebebasan berekspresi, memasung demokrasi estetika, atau-dan menjadi insan yang sangat egaliterian.

Hal yang paling inti, adalah bagaimana kita dapat menyusun suatu benang merah paradigma estetik yang amat kaya tersebut menjadi sebuah wacana budaya Indonesia Baru. Tentu saja banyak pihak yang tidak setuju tatkala nilai-nilai estetik telah menjadi pluralistik dan semakin global. Ataupun latah ikut arus Reformasi dan dinamika kebudayaan rakyat yang menjadi wacana baru secara nasional. Namun pelbagai pihakpun sadar bahwa fenomena Mazhab Bandung akan berlangsung terus sebagai sebuah tradisi akademik kontekstual yang semakin hari semakin dituntut menjadi bagian dari pembentuk insan budaya bangsa ini. Sejumlah seniman otodidak membuat alternatif tandingan Mazhab Bandung, untuk menjadi seniman yang sangat Anti Akademis, sebari merancang sebuah mazhab baru yang belum bernama.

Meskipun harus diakui secara jujur, sejak mulai uzurnya generasi tua, para generasi muda betul-betul harus berjuang membangun spirit yang mulai memudar di tengah-tengah percaturan senirupa nasional. Semakin luasnya proses komoditasi berkesenian yang dilakukan oleh galeri, yayasan kebudayaan, rumah produksi, manajer-manajer seni, kurator bahkan oleh pribadi-pribadi seniman kaya, para seniman Mazhab Bandung mencoba bertahan melalui eskperimen-eksperimen kreatifnya. (A.Sachari)

Wednesday, March 01, 2006

DIMENSI VISUAL DAN PERADABAN

Apa sebenarnya yang disebut budaya visual itu ? Mengapa dalam beberapa dekade ini menjadi penting dan strategis? Pertanyaan ini tentu tidak mudah dijawab, karena paham-paham maupun substansi mengenai budaya visual itu sendiri setiap saat mengalami kontraksi dan pengembangan. Budaya visual adalah salah satu wujud kebudayaan konsep (nilai) dan kebudayaan materi (benda) yang dapat segera ditangkap oleh indera visual (mata) serta dapat dipahami sebagai tautan pikiran manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Budaya visual bukanlah hanya terdiri dari sebuah sosok kebudayaan yang netral, melainkan bentuk implementasi ‘terluar’ dari tatanan nilai yang membentuknya. Namun budaya visual bukanlah sekadar ‘baju’ dari sebuah peradaban benda, melainkan sebuah hakikat dari struktur budaya pembentuknya, pilar-pilar tersebut berupa inovasi teknologi, ideologi komunikasi, politik kebudayaan, dinamika sosial, tuntutan ekonomi hingga segala sesuatu yang sifatnya mendasar dalam membentuk bangun sebuah peradaban.

Dengan demikian budaya visual melingkup pelbagai aspek yang berkaitan dengan wujud akhir sebuah gagas manusia untuk 'mendunia', antara lain berwujud sebuah karya desain, atau berbentuk karya senirupa (dalam arti luas), juga pelbagai bentuk komunikasi visual, perumahan, media cetak, iklan, video klip, film, siaran televisi, mode pakaian hingga barang kebutuhan sehari-hari, dan juga dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti sebuah komik, tusuk gigi, peniti, kunci atau kancing baju.

Dalam wacana kebudayaan yang dibentuk oleh proses transformasi yang panjang, dinamika budaya visual kerap terbentuk karena adanya pergeseran nilai yang cenderung memiliki korelasi yang bertautan dengan berbagai wacana kebudayaan yang luas. Dalam situasi tersebut hampir semua komponen kebudayaan saling mempengaruhi serta menempatkan diri sepadan dengan pelbagai wujud ‘kekuatannya’. Bahkan kerap antara satu kebudayaan dan sub-sub kebudayaannya mengalami penghancuran ataupun pelenyapan, sehingga yang tersisa hanyalah berupa ‘jejak’ historisnya saja. Dengan demikian, dalam kehidupan budaya visual yang dinamis tersebut, dunia desain dapat difahami sebagai salah satu aktifitas budaya yang bermuatan nilai, serta amat terpengaruh oleh situasi sosial di zamannya.

Desain dapat dipandang sebagai ungkapan budaya visual yang paling fungsional serta telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat. Dan di dalam kehidupan masyarakat modern, desain merupakan 'operasi-operasi' kebudayaan yang menyentuh sisi paling dalam tentang pentingnya arti hidup mendunia. Desain juga merupakan wujud dari pencapaian kecerdasan manusia untuk menundukkan alam yang dapat segera tercerap secara visual oleh indera. Oleh karena itu, desain merupakan fenomen visual yang teraga dan genting untuk selalu dicermati (A.Sachari)